Angka dan Arah sebagai Nama Jalan

Nama pahlawan, nama-nama binatang dan bunga, nama pulau dan gunung, serta nama kerajaan, banyak digunakan sebagai nama jalan di Indonesia. Mungkin tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, kita menjadi sulit mencari alamat yang kita cari. Misalnya kita mau mencari Jalan Pemuda, sulit bagi kita untuk mengira-ira di mana lokasi jalan itu. Belum lagi di suatu kota, ada berapa nama jalan yang memakai nama bunga, seperti Jalan Mawar atau Jalan Cempaka? Karena hampir di setiap kompleks perumahan, selalu ada nama itu.

Ada cara yang lebih mudah untuk memberi nama jalan, yaitu memakai arah jalan, misalnya Jalan Utara (karena mengarah ke utara), Jalan Selatan, Jalan Timur, dan Jalan Barat. Di negara-negara maju, sangat biasa kita jumpai East Street, West Street, dan seterusnya. Pusat kota, biasanya alun-alun, atau perempatan di tengah kota, bisa dijadikan patokan.

Sebagai contoh, Jalan Malioboro di Yogyakarta, tepat berada di alun-alun utara, maka sebaiknya dinamakan Jalan Utara 1. Semua jalan besar yang membujur ke utara yang ada di barat Malioboro, diberi nomor ganjil, misalnya Jalan Bayangkara, diberi nama Jalan Utara 3, jalan di baratnya lagi dinamai Jalan Utara 5, dan seterusnya. Jalan Mataram (di sebelah timur Jalan Malioboro), diberi nomor genap, sehingga menjadi Jalan Utara 2.

Bagaimana dengan Jalan Panembahan Senopati yang membujur ke timur? Secara otomatis diberi nama Jalan Timur 1. Semua jalan ke timur di utara Jalan P. Senopati, diberi nomor genap, misalnya Jalan Beringharjo diberi nama Jalan Timur 2, Jalan Kranggan diberi nama Jalan Timur 4, dan seterusnya. Demikian juga di sisi selatan, ada Jalan Ibu Ruswo, diganti dengan Jalan Timur 3 (dan seterusnya).

Jalan KH Ahmad Dahlan yang membujur ke barat, akan mendapat nama Jalan Barat 1. Jalan Trikora yang membujur ke selatan, akan mendapat Jalan Selatan 1. Praktisnya, nama jalan ini dapat disingkat menjadi Jalan U1 (Utara 1), Jalan T1 (Timur 1), Jalan B1 (Barat 1), dan Jalan S1 (Selatan 1).

Sekali lagi, kalau nama-nama yang sekarang ada ingin dipertahankan, tinggal ditambahkan saja nama baru tadi, selain Jalan Malioboro (U1), Jalan P. Senopati (T1), Jalan Trikora (S1), dan Jalan KH Ahmad Dahlan (B1).

Pemberian nama jalan dengan cara ini akan memudahkan orang yang akan mencari jalan, meskipun tanpa alat GPS. Semakin besar angkanya (misalnya Jalan Utara 15), berarti semakin jauh posisi jalan tersebut dari pusat kota.

Bagaimana dengan Nomor Bangunan?

Karena di Jalan Malioboro ada beberapa blok (daerah di antara dua jalan), maka setiap blok diberi nomor urut genap (untuk blok di barat jalan) dan nomor urut ganjil (di timur jalan). Misalnya untuk blok Gedung Agung (Istana Presiden) diberi 1000 dan blok Monumen 1 Maret diberi 1100. Semua gedung di blok tersebut diberi nomor dengan mengganti dua digit. Di blok 1000 tadi, ada Museum Sonobudoyo, maka diberi nomor 1001. Di utaranya, ada Gedung Agung, diberi nomor 1002. Berarti alamat Museum Sonobudoyo akan menjadi: Jalan Utara 1001. Kalau tetap ingin mempertahankan nama Malioboro ya menjadi Jalan Malioboro, Utara 1001.

Di utara Gedung Agung ada jalan, berarti di utara jalan ada blok baru, maka diberi nomor 1200 (nomor genap).  Gedung-gedung di daerah itu berarti akan mendapat nomor 1201, 1202, dan seterusnya. Demikian juga dengan gedung-gedung di sebelah timur Jalan Malioboro.

Praktis bukan?

6 thoughts on “Angka dan Arah sebagai Nama Jalan

  1. Pak Agus,

    Saya termasuk maniak kode pos😉 sehingga ketika awal diberlakukannya dulu, saya langsung tulis di koran dan dimuat (nanti saya upload wis…). Hanya sayang, masyarakat (termasuk instansi pemerintah) sering beranggapan: halah, tanpa kode pos aja sampai kok… Sampai sih sampai, tetapi mereka tidak membayangkan betapa repotnya petugas sortir surat. Dan yang lebih parah lagi, bagaimana bisa diotomatisasi proses pengiriman surat kita?

    Benar sekali Pak Agus, di Yogya orang tetap menyebut Yudonegaran, meskipun sudah lama diganti menjadi Jalan Ibu Ruswo. Niatnya baik menghargai jasa para pahlawan kita, tetapi tidak terpikirkan ribuan orang yang bingung atau kesulitan mencari alamat dan waktu yang terbuang di jalan raya. Untungnya, Sri Sultan HB IX TIDAK BERKENAN namanya dijadikan nama jalan. Luar biasa pandangan beliau!

    Sudah kerasan di Sby nih? Soto Maduranya sudah mencicipi? Juga rujak cingur?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s