Kelola BBM dengan e-STNK

Pengelolaan BBM benar-benar membuat Pemerintah pusing. Jumlah penggunaan BBM semakin hari semakin meningkat dan secara otomatis subsidi BBM juga semakin menggerogoti APBN. Kalau subsidi BBM dikurangi, harus diimbangi dengan kenaikan harga BBM. Kalau harga BBM naik, mudah sekali masyarakat melakukan demonstrasi di mana-mana, dengan alasan akan menyebabkan kenaikan harga-harga barang kebutuhan sehari-hari. Kalau harga BBM tidak dinaikkan sekarang, suatu saat nanti toh tetap harus dinaikkan, karena semakin membengkaknya subsidi BBM, yang tentu saja akan sangat membebani APBN.

Pengelolaan BBM selama ini mengandung beberapa kelemahan. Pertama, subsidi diberikan kepada komoditas, yaitu langsung ke BBM, padahal seharusnya subsidi diberikan kepada pihak-pihak yang memerlukan, misalnya masyarakat kurang mampu secara ekonomis, atau kepada instansi pemerintah yang menjalankan tugas negara, dan perusahaan yang menggerakkan roda perekonomian. Saat ini mobil-mobil pribadi dan mobil mewah yang boros BBM pun ikut menikmati subsidi. Sungguh tidak adil, karena pemilik mobil pribadi dan mobil mewah harusnya tidak perlu menerima subsidi BBM.

Kedua, penggunaan BBM tidak dibatasi. Siapapun boleh membeli BBM sebanyak-banyaknya. Tidak ada mekanisme untuk mengendalikan BBM. Padahal persediaan BBM semakin terbatas. Seharusnya, para pemilik mobil hanya dibatasi penggunaan BBM-nya, terutama kalau memang masih harus disubsidi. Misalnya saja, sebuah mobil hanya akan disubsidi 10 liter BBM (pembelian dengan harga subsidi). Angka Selebihnya, harus dengan harga nonsubsidi.

Ketiga, semua orang yang memiliki atau menggunakan mobil, bisa membeli BBM dengan hak yang sama, seperti pada butir pertama dan kedua di a tas. Harusnya ada pembedaan, misalnya kendaraan pribadi sangat dibatasi penggunaan BBMnya, terutama BBM bersubsidi. Sedangkan mobil–mobil yang bertugas melayani masyarakat banyak tetap harus disubsidi, misalnya mobil angkutan umum, mobil angkutan barang, operasional pelat merah, mobil patroli polisi, mobil angkutan logistik tentara, ambulan, tidak perlu dibatasi. Meskipun demikian, tetap perlu diawasi penggunaan BBMnya. Jangan sampai ada mobil angkutan umum yang tangkinya sudah diubah menjadi drum yang dapat diisi 100-200 liter BBM sekali isi. Bahkan di Jawa Timur pernah ada sebuah bus yang diisi hingga 6.000 liter solar!

Upaya yang selama ini sudah dilakukan adalah melarang mobil pelat merah untuk membeli BBM bersubsidi. Sebetulnya mobil pelat merah, terutama yang digunakan untuk pelayanan kepada masyarakat, biarlah tetap menggunakan BBM murah. Kalau mobil dinas para pejabatnya bolehlah diharuskan membeli BBM tanpa subsidi.

Penggunaan BBM harus dikontrol

Kabarnya, persediaan minyak bumi di Indonesia tinggal 13 tahun lagi. Berarti kebutuhan untuk membatasi penggunaan BBM tak terbarukan harus segera dibatasi dan dicari penggantinya. Sebetulnya, membatasi dan mengontrol konsumsi BBM tidaklah sulit, asal menggunakan teknologi yang sekarang sudah tersedia. Penggunaan teknologi yang diusulkan di sini tidak hanya dapat digunakan untuk membatasi dan mengelola penggunaan BBM, tetapi bahkan dapat digunakan untuk hal-hal lain, misalnya perpanjangan STNK dapat dilakukan di lain propinsi. Bagaimana caranya?

Pertama, pemerintah harus mengubah STNK kendaraan yang sekarang berlaku menjadi STNK digital atau eSTNK, seperti KTP digital juga lah. Bentuk STNK yang ada sekarang sangat tidak praktis dan sulit untuk ditambahi aplikasi. STNK harusnya cuma seukuran KTP dan saya sudah mencoba merancang ulang informasi yang ada di STNK lama, dapat diringkas menjadi satu kartu seukuran KTP saja. Di dalam STNK digital ini terdapat informasi lebih lengkap mengenai data kendaraan, misalnya contoh warna (tidak cuma disebut biru atau hijau, karena ternyata ada biru tua, biru muda, dan sebagainya). Yang penting lagi, di dalam STNK ini ada keterangan bahwa mobil ini berhak mendapat subsidi BBM berapa liter dalam seminggu, selebihnya harus dengan harga nonsubsidi.

Kedua, semua pompa SPBU harus dilengkapi dengan alat EDC (electronic data capture) atau pembaca kartu digital, seperti yang sudah banyak digunakan di toko-toko. Pembeli harus menyerahkan STNK digital ke petugas, dan petugas akan memasukkan kartu tersebut ke mesin pembaca. Mesin pembaca langsung dapat memutuskan apakah mobil ini masih berhak mendapat BBM bersubsidi minggu ini. Bisa saja seorang membeli 30 liter BBM, yang 20 liter dengan harga subsidi, yang 10 liter dengan harga normal. Esok harinya, bila dia membeli lagi 30 liter, pasti akan dikenai harga nonsubsidi sepenuhnya oleh sistem.

Dengan cara begini, subsidi BBM akan sangat mudah dibatasi, tanpa menimbulkan gejolak di dalam masyarakat, karena masyarakat yang berhak mendapat subsidi, akan tetap mendapatkan haknya. Sedangkan pemilik mobil pribadi yang tidak berhak mendapat subsidi, atau mendapat subsidi sedikit, juga tetap akan menikmati hak dan kewajibannya.

Jangan mengatakan kita belum siap atau terlalu sulit, seperti KTP digital yang selama ini belum tahu mau diapakan atau dipakai untuk apa. Cobalah lihat Kabupaten Jembaran di Bali, yang merupakan kabupaten miskin dan boleh dibilang tertinggal di bidang ekonomi. Namun mereka sudah menerapkan KTP digital sejak sepuluh tahun yang lalu. KTP digital di Jembrana digunakan untuk pemilihan kepala daerah dari bupati hingga lurah (kepala banjar) sehingga di sana tidak perlu lagi ada kartu suara, kotak suara, tinta, dan alat coblos atau centang. Pemilih tinggal datang ke TPS, taruh KTP di komputer, lalu pilih calon yang disukainya. Sore harinya, hasil pilkada sudah diketahui dengan pasti dan tidak perlu ada keributan karena salah perhitungan.

Memang masih ada pihak-pihak yang takut dengan teknologi, karena mereka tidak lagi bisa ‘bermain’. Prinsip mereka adalah, kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah? Lalu, mereka akan mengajukan berbagai alasan klasik: SDM belum siap lah, teknologi belum mendukung lah, dana tidak ada lah, dan kejelekan-kejelekan lainnya. Mereka tidak melihat hari esok yang cerah.

(Artikel ini dimuat di rubrik Analisis harian Kedaulatan Rakyat, hari Kamis 28 Maret 2013 halaman 1)

One thought on “Kelola BBM dengan e-STNK

  1. assalamu’alaikum pak sya nina mhsiswa bapak di d3 ekonomi mohon ijin untuk share e-stnk bapak di blog saya, sumber saya cantumkan. trimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s